Part 11
Pagi yang cerah, namun suasana
hatiku terasa mendung. Langkahku berat menuju ruang kelas, aku tak tahu harus
bagaimana jika bertemu dengannya. Haruskah aku menyapanya seperti tak ada yang
terjadi? Atau haruskah aku menganggapnya tak ada, berpura-pura tak mengenal
atau tak melihatnya? Aku benar-benar bingung. Akhirnya kuputuskan untuk tak
masuk kedalam kelas dan berdiri bersandar di dinding ruang kelas tepat di
samping pintu masuk ruang kelasku. Aku kembali menatap lantai-lantai yang
membosankan, pikiranku kosong. Aku bahkan tak menyadari ada sepasang kaki yang
berdiri tepat di depanku. Orang itu memanggilku, aku mendengar suaranya
samar-samar namun tak menghiraukannya suaranya terasa familiar namun aku tak
tahu siapa pemilik suara itu.
“Gyu Ri ah... Ya, Nam Gyu Ri... Apa
kau baik-baik saja?... Gyu Ri...” Aku hanya mendengar suara itu dan memandangi
kaki si pemilik suara itu namun tak menghiraukannya, hingga ia menaikkan sedikit
nada bicaranya.
“Yaaaa... Nam Gyu Ri!...” Sontak aku
terkejut dan langsung menatap si pemilik suara.
“Kau baik-baik sajakan?” tanya lagi.
Aku hanya mengangguk perlahan, tiba-tiba Joong Ki keluar dari dalam kelas.
“Apa
yang terjadi?” Tanya cwo menyebalkan itu seraya menatapku sesaat. Aku segera
mengarahkan pandangku pada Ill Woo yang sedari tadi memanggil dan menanyakan
kaadaanku, lalu pamit padanya dan masuk ke dalam kelas segera.
Aku
membaringkan kepalaku di atas meja dan memejamkan mataku perlahan, belum selang
satu menit Joong Ki sudah mengejutkanku dengan kata-katanya.
“Apa
lagi masalah yang kau buat sekarang?” Tanyanya dengan nada yang cukup tinggi.
“Masalah?
Apa yang kulakukan? Aku tak melakukan apapun?” Jawabku dengan nada yang tak
kalah tinggi.
“Apa
yang kau lakukan hingga membuat sahabatku khawatir seperti itu?” Tanyanya
dengan nada yang sedikit lebih lembut.
“Apa
pedulimu? Kau siapa? Berhenti urusi kehidupanku...” Aku berdiri dari kursiku
dan meninggalkan ruang kelas menuju toilet wanita, aku masuk ke dalam salah
satu ruangan kamar kecil itu menutup mulutku dan menangis tanpa suara. Aku tak
tahu alasanku menangis, aku benar-benar sedih karena kata-kata yang di ucapkan
Joong Ki. Apa dia tahu dia benar-benar melukai hatiku dengan bertanya seperti
itu. Bukannya menanyai keadaanku dia malah marah dan bertanya masalah apa yang
ku perbuat. Apa dia tidak mengenaliku? Apa aku tipe orang yang senang membuat
masalah? Apa dia tak tahu aku seperti ini karenanya? Aku benar-benar frustasi
karenanya.
Aku kembali kedalam kelas, hari ini
moodku benar-benar buruk, aku bahkan tak belajar dengan sungguh-sungguh hari
ini. Sepulang sekolah Uee mengajakku dan seluruh anggota kelompukku untuk
diskusi masalah drama kami, pasalnya besok adalah hari dimana kami harus
syuting yang sesungguhnya.
“Gyu
Ri ah, sebenarnya ada masalah apa kenapa kamu terlihat aneh belakangan ini?”
Tanya Uee seraya menatap dalam padaku.
“Ehm...
Ehm... Aku tahu ni apa masalahnya...” Jawab Geun Seuk dengan nada menggoda.
“Apa?
Ada apa?” Tanya Suzy penasaran.
“Aku
juga tak mengerti apa yang salah dengan temanmu itu, ia bahkan membuat anak
kelas sebelah mengkhawatirkannya...” dengan wajah dinginnya Joong Ki mengatakan
itu sambil menatap tajam padaku.
“Anak
kelas sebelah? Siapa?” Tanya Jiyeon.
“Emb,
Ill Woo... Aku tidak meminta dia mengkhawatirkanku... Lagi pula aku baik-baik
saja... Hanya moodku agak buruk karena seseorang...” Jawabku seraya menatap
tajam pada Joong Ki.
“Siapa
yang membuat moodmu buruk Gyu Ri ah...?” Tanya Nayeon.
“Ah
Sudahlah, tak penting membicarakan dia...” Jawabku dengan kesal.
“Emb
ya sudah... Tapi jangan sampai moodmu mempengaruhi syuting kita besok ya...”
Pinta Uee padaku.
“Besok?
Wah waktu cepat sekali berlalu...” Kata Geun Seuk seraya melirik nakal padaku.
“Eonni,
katakan saja siapa yang mengganggumu, akan ku hancurkan dia sampai
berkeping-keping...” Kata Jiyeon seraya memelukku lalu menatap tajam pada Joong
Ki.
“Uuu
gak ada yang ganggu dia kok... Yang ada dia yang ganggu orang lain...” Kata
Joong Ki mencoba membela diri.
“Ya
udah selama syuting kita lupakan saja dulu masalah pribadi kita...” Pinta Uee
lagi.
“Ehm
jangan sampai ada yang lupa ya besok pagi sebelum jam 7 kita sudah kumpul di rumahku,
kita harus meminta izin untuk menggunakan taman itu.... Juga naskahnya jangan
sampai ada yang masih gak hafal...” Kataku seraya menatap anggota kelompokku
silih berganti.
“Kau
harus mengsms-kan lagi jadwalnya...” Kata Joong Ki ketika aku selesai
menatapnya.
“Bukankah
kalian sudah tahu jadwalnya? Untuk apa ku-sms-kan lagi?” Tanyaku kesal.
“Bagaimana
jika kami lupa?” Tanya balik Geun Suk.
“Huft,
aku gak ada pulsa... Uee ah, tolong sms-kan mereka jadwal kita...” Jawabku
mengalah.
“Siap
Boss...” Jawab Uee cepat.
“Aku
gak akan datang klo bukan kamu yang kirim pesannya...” Jawab Joong Ki seraya
berjalan meninggalkan kelas.
“Heol,
Daebak.... Ya Song Joong Ki!!!” Teriakku memanggilnya yang tak menghiraukan
panggilanku.
“Eonni,
kita gak perlu latihankan hari ini...? Aku harus pulang lebih awal agar besok
bisa syuting...” Tanya Jiyeon padaku.
“Nae...
Chagiya... Pulanglah, istirahat dan hafalkan teks mu ya...” Pintaku pada Jiyeon
seraya membelai rambutnya perlahan.
Setelah selesai menulis,
aku memasukkan tulisan itu kedalam sebuah Amplop putih yang bertuliskan “Dear
Mr. Daebak” lalu memasukkan amplop itu ke dalam kotak yang bertuliskan, “Dear My Marriage
Partner” lalu menyembunyikan kotak itu di dalam lemari. Di dalam kotak itu
sudah ada satu amplop yang bertuliskan “Dear Mr First Love” aku senang menulis
jadi aku selalu menuliskan kisah cintaku dan menyimpannya di dalam kotak itu,
itu adalah kotak terlarang yang nanti hanya boleh di buka oleh suamiku. Tak ada
tujuan khusus mengapa aku menulisnya, aku hanya ingin menyimpan kisah cintaku
didalam kotak yang bernama kenangan.
Setelah selesai
menyembunyikan kotak itu di tempat yang tak terlihat akupun mengambil ponsel
dan mengirimi pesan kepada teman-teemanku untuk jadwal syuting besok. Dan
seperti biasa mereka hanya menjawa Ok. Dan seperti biasa juga Joong Ki menjawab
dengan protesannya.
“Bukankah jam 7 terlalu
awal, aku harus mencuci baju di hari minggu...” Balasnya melalui pesan singkat.
“Wah Daebak, anak cwo cuci
baju? Rajinnya...” Balasku cepat.
“Seperti biasa pujian kakak
yang terbaik...” Balasnya.
“Emb... Jadi kamu maunya
jam berapa? Jam 9 gimana?” Tanyaku.
“Jam 9 terlalu siang kak...”
“Lalu?”
“Jam 8 jak... Gak terlalu
pagi dan gak terlalu siang gimana?”
“Oklah... Huft harus sms
mereka lagi ni gara-gara kau...” Jawabku kesal dan langsung mengirimi
poerbaruan jadwal ke semua anggota kelompokku.
“Oh ya, tadi kakak kenapa
sih?” Balasnya cukup lama.
“Memang tadi aku kenapa?”
Tanyaku balik.
“Ill Woo bilang kakak
terlihat murung... Apa kakak marah karena aku menyebut kakak penipu?” Balasnya,
butuh waktu 10 menit menunggu balasannya itu. Aku tak membalas pesannya kali
ini karena aku cukup kesal.
“Aku hanya sedikit kesal
dengan kakak, begitulah aku ketika kesal, aku hanya akan marah sebentar... Tapi
apapun perkataan kasar yang kukatakan itu tidak sungguh-sungguh... Jadi jangan
marah lagi...” Balasnya lagi.
“Belajarlah untuk lebih
menahan emosimu lagi...” Balasku.
Lebih dari sepuluh menit
tak ada balasan dari Joong Ki akupun tidur, keesokan harinya aku menunggu
kedatangan teman-temanku dirumah. Dan seperti biasa Joong Ki adalah yang paling
tepat waktu. Aku menyuruhnya untuk masuk ke rumah, namun ia tak ingin masuk
sampai teman yang lain datang. Akhirnya kami mengobrol di luar.
“Kenapa tak membalas
pesanku?” Tanyaku tanpa memandang Joong Ki. Tak ada jawaban yang di lontarkan
Joong Ki.
“Apa kau tak mau lebih
menahan emosimu?” Tanyaku lagi. Joong Ki hanya menatapku.
“Aku ingin... Tapi... Aku
tidak bisa...” Jawab Joong Ki seraya menundukkan kepalanya.
“Kau pasti bisa...” Kataku
mencoba meyakinkannya.
“Kau tahu apa tentangku?”
Tanyanya seraya menatap tajam padaku.
“Lihat... Lihat... Jika kau
seperti itu terus maka semua orang mungkin akan membencimu...” Kataku mencoba
tersenyum.
“Ada banyak hal yang ku
inginkan di dunia ini namun tak satupun dapat ku miliki... Aku juga ingin
berubah... Aku tak ingin di benci karena sifatku... Namun, aku juga ingin dimengerti...”
Kata Joong Ki dengan mata berkaca-kaca lalu membelakangiku.
“Joong Ki ah... Mianhae...”
Aku benar-benar menyesal mengatakan itu. Joong Ki kembali menatapku, Aku tak
bisa membaca apa yang ia pikirkan namun aku dapat melihat kesedihan yang
mendalam dari dalam matanya.
“Apa yang kau katakan
benar, aku tak tahu banyak hal tentangmu... Namun, aku berjanji apapun yang kau
lakukan aku akan mencoba mengerti dan tak akan pernah membencimu...”
“Apa kau tak ingin
membenciku...? Kau sudah tahu banyak hal-hal buruk tentangku...”
“Bukan karena aku tak
ingin...” Jawabku. Joong Ki hanya menatapku.
“Tapi aku tak bisa...”
Sambungku seraya menatap Joong Ki, mata kamipun bertemu.
~Bersambung


Thor, sebenarnya post setiap hari apa? Kok jadwal kayanya gak tentu.
BalasHapusmimin itu postnya gak pake jadwal hehehe.. harap maklum...
Hapusmian, mimin ujian beberapa minggu lalu...
HapusLanjut min, kayanya Joong Ki Oppa da mulai nunjukin perasaannya deh hehehe..
BalasHapusHahaha tsundere butuh waktu lama buat nunjukin perasaannya...
HapusKirain mimin uda ngilang soalnya da 3 minggu gak ada kabar, huft hampir bosan nunggu mimin.
BalasHapussabar candy admin sini memang da biasa gitu...
HapusMianhae Candy... Yah, Dota,kamu tu siapa sih???
HapusAku . . . Dota Sudirman D.S . . .
HapusBerhenti berpura-pura menjadi orang lain, cepat tunjukkan siapa kau sebenarnya!!!
HapusKenapa yakin sekali jika aku bukan dia ???
HapusLanjut min, btw T-ara kan mau bubar, jadi kapan mimin realis ff yg "Cerita di balik mimpi"?
BalasHapusGaklah... T-ara gak akan bubar... Kita percaya saja sama mereka... Klo ff yg satulagi nanti ya...
HapusOooo jadi itu isi kotak yang kamu simpan di laci no 3...
BalasHapusmemang kamu pernah liat isi laci no3?
HapusAku pernah liat, pada saat aku numpang sholat di kamarmu . . .
HapusNumpang sholat? Di kamarku? kau pasti adalah orang yang mengenalku sangat baik namun maaf semakin kau bertindak seperti ini aku semakin menyadari kau bukan dia...
HapusApa kau yakin sudah mengenalnya dengan sangat baik?
Hapusaku tahu semua kebaikan dan keburukannya, aku yakin sudah mengenalnya dengan sangat-sangat baik...
Hapus