Part 18
Aku Tidak Baik-baik Saja
Aku membersihkan kelas dengan
sembarangan, bahkan sapu yang ku pegang hanya melewati dan menyentuh lembut
lantai sesekali. Setelah panggilan untuk upacara dimulai, aku segera meletakkan
sapu hendak meninggalkan ruang kelas. Namun, aku sedikit terkejut melihat Suzy
dengan wajah yang pucat memasuki kelas. Aku membantunya berjalan ke kursinya.
Ia duduk di sana dengan wajah yang pucat dan terlihat lelah.
“Suzy ~ah... Gwaenchana?” tanyaku
khawatir pada Suzy.
“Aku gak apa-apa, cuma capek...” jawab
Suzy dengan ekspresi wajah lesuh.
“Istirahatlah, aku akan menemanimu di
sini...”
“Pergilah, kau harus mengikuti upacara,
aku baik-baik saja kok...” kata Suzy cepat seraya mendorongku pelan.
“Sekali tak mengikuti upacara ku pikir
bukan masalah besar...” kataku berusaha mendekati Suzy.
“Pahlawan berusaha keras untuk
memerdekakan negara kita, apa kau tak mau berterima kasih? Pergilah aku akan
baik-baik saja di sini...” kata Suzy dengan nada bicara yang sedikit tinggi.
“Tapi...”
“Pergilah! Atau aku tak akan mau bicara
denganmu lagi...” Suzy membaringkan kepalanya ke atas meja dan segera menutup
matanya.
“Pergilah, aku akan menemaninya di sini... Aku juga tak enak
badan...” tiba-tiba Nayeon datang dan segera duduk di samping Suzy. Aku tak
punya pilihan lain selain meninggalkannya. Aku berlari menuju tempat upacara,
upacara sudah di mulai, segera ku masuki barisan.
“Gyu Ri~ah, sebenarnya apa yang terjadi pada Suzy dan
Nayeon?” bisik Uee padaku.
“Emb, kita sedang upacara... Lagi pula itu masalah mereka ku
pikir kita tak perlu ikut campur...” jawabku berbisik pada Uee yang berbaris di
depanku.
“Iya sih, tapi... Aku ingin membantu mereka... Kitakan
teman, ceritakanlah... Terlanjur tak ada mereka di sini...” pinta Uee padaku.
“Kemarin seharusnya Nayeon dan Suzy pulang bersama... Mereka
sudah membuat janji... Tapi Nayeon pulang dengan pacarnya... Suzy tak bisa
pulang sendiri karena sudah larut malam, lagipun sepedanya rusak... Karena itu
dia di marahi... Jadinya dia sedikit kesal dengan Nayeon... Aku juga berharap
dapat membantu mereka..” terpaksa akupun menceritakan semua itu pada Uee agar
kami dapat menyatukan mereka lagi.
“Jangan hanya mendengarkan cerita satu pihik, itu sungguh
tak baik Gyu Ri~ah...” tiba-tiba Jiwon dari kelas sebelah yang merupakan
temanku dan Nayeon waktu kelas sepuluh mengatakan itu dengan nada kesal. Dia
adalah sahabat karibnya Nayeon.
“Iya Jiwon ah, aku juga akan mendengarkan cerita Nayeon...
Lagipula aku belum menyimpulkan apapun...” aku menatap bingung pada Jiwon yang
berbaris tepat di sampingku itu.
“Hanya saja, tadi terdengar seperti kau menyalahkan Nayeon,
aku tahu kamu bukan orang seperti itu... Aku hanya ingin bilang kau mungkin
dapat terjangkit pengaruh buruk dari Suzy... Karena kau temanku jadi aku
memberitahumu ini...” kata Jiwon dengan wajah datar.
Setelah upacara selesai, aku dan teman-temanku kembali ke
kelas. Aku, Jiyeon, Uee dan Jihyo berjalan bersama menuju ruang kelas. Di jalan
kami berpaspasan dengan Joong Ki, Ill Woo dan Geun Suk.
“Uee~ah... Kenapa tak membalas pesanku kemarin?” tanya Geun
Suk dengan nada menggoda pada Uee, kami semua menatap kaget pada mereka.
“Cie... Hmm... Hmm...” kata Jiyeon menggoda Uee.
“Lama tak berjumpa Gyu Ri~ah...” kata Ill Woo tiba-tiba.
“Nae? Ye...” jawabku sedikit terkejut dengan perkataan Ill
Woo tadi.
“Wah wah... Eonni dan Ill Woo punya hubungan apa nih?” tanya
Jiyeon tiba-tiba.
“Ayo masuk ke kelas, sebentar lagi jam pelajaran akan
dimulai...” kata Joong Ki seraya berjalan meninggalkan kami semua. Aku
bersyukur karena hal itu aku tak perlu menjawab pertanyaan tak masuk akal dari
Jiyeon tadi.
Di kelas aku melihat Nayeon dan Suzy sudah mulai baikan,
akupun begitu bahagia melihat mereka sudah berbaikan. Aku dan Jiyeon segera
duduk di bangku kami.
“Eonni, bagaimana hasil syuting kemarin?” tanya Jiyeon
seraya menatap mataku dalam.
“Meskipun semua tak sesuai dengan rencana, namun setidaknya
hasilnya lebih baik dari syuting pertama kita...” jelasku pada Jiyeon yang
hanya tersenyum kecil mendengar perkataanku.
“Kapan kita akan mengedit videonya?” tanya Joong Ki yang
baru datang menghampiri kursi kami.
“Pulang sekolah hari ini bisakah kalian semua datang ke
rumahku? Kita harus melihat videonya dulu dan menerima arahan untuk
mengeditnya...” aku menatap sedikit kesal pada Joong Ki.
“Aku bisa, asal tidak pulang lewat dari jam 4 sore, karena
ada pekerjaan rumah yang tak bisa ku tinggal...” kata Joong Ki dan mulai
menatap anggota kelompok kami yang lain, yang sepertinya sudah mendengar
pembicaraan kami.
“Jika Joong Ki ikut maka aku juga akan ikut...” respon Geun
Suk cepat.
“Aku bisa Gyu Ri ah, aku benar-benar penasaran hasil film
kita...” kata Nayeon bersemangat.
“Aku harus mengambil sepedaku di rumahmu...” kata Suzy
cepat.
“Baiklah, jika semua bisa maka aku akan ikut...” kata Uee.
“Uee~ah, kita masih punya banyak waktu untuk mengerjakan
itu, kenapa kelompok kalian begitu tergesah-gesah...?” tanya Qri dengan wajah
dinginnya pada Uee.
“Semakin cepat maka semakin baik...” jawab Uee seraya
tersenyum penuh arti.
Sepulang sekolah, pukul dua lewat lima belas menit menit aku
dan teman-teman satu kelompokku segera menuju rumahku. Karena jarak rumahku dan
sekolah cukup jauh kami sampai di rumahku pukul tiga kurang lima belas menit.
Aku mempersilahkan teman-temanku untuk duduk sembari membuat minuman. Di ruang
tv aku melihat adik laki-lakiku sedang bermain game, aku hanya melewatinya yang
sedang asik sendiri tak menyadari kehadiranku. Aku segera memberikan teh dingin
pada teman-temanku. Mereka terlihat begitu haus dan letih.
“Sebelum pulang, mari kita berfoto dulu, untuk foto profil
di video...” pintaku pada teman-temanku, yang di jawab dengan anggukan.
“Gyu Ri, bolehkah aku ibadah di rumahmu? Ini sudah lewat jam
ibadah, aku tak ingin ketinggalan...” kata Joong Ki ragu.
“Emb baiklah... Ayo...” kataku ragu.
“Geun Suk ah, ayo...” ajak Joong Ki pada Geun Suk, segera
Geun Suk mengikuti kami. Akupun mengantar Joong Ki dan Geun Suk ke kamar mandi,
setelah itu memberi mereka perlengkapan yang di butuhkan lalu mengantar mereka
ke kamarku.
“Wah, ini kamarmu...? Rapi banget...” puji Joong Ki seraya
tertawa kecil.
“Kau memuji atau menghina?” tanyaku sinis.
“Hehehe, tinggalkan saja kami di sini, dan temani yang
lainnya...” kata Joong Ki mengabaikan pertanyaanku.
Akupun meninggalkan Joong Ki dan Geun Suk di kamarku.
Segeraku nyalakan komputer di kamar orang tuaku, dan memperlihatkan
teman-temanku video kami, setelah selesai, aku merekam suara Jiyeon yang khas
untuk dubbing kami. Joong Ki dan Geun Suk pun sudah selesai beribadah namun tak
langsung menemuiku mereka malah sibuk permain game dengan adikku.
“Yah, apa kalian tak mau menonton video kita?” tanyaku kesal
pada mereka, namun mereka mengabaikanku seakan tak mendengar pertanyaanku itu.
Ayahkupun pulang setelah bekerja dari pagi, ia segera
mengambil kameranya dan memotret kami. Di sela sesi pemotretan Joong Ki baru
membuka handphonenya dan mendapat banyak panggilan tak terjawab dari ibunya,
iapun segera melihat jam yang ternyata jarum pendeknya sudah berada hampir di
angka lima. Ia sedikit panik, ia keteras rumahku dan menelpon ibunya. Aku
mengamati ekspresi wajahnya, yang terlihat khawatir.
“Yah, aku akan segera pulang...” hanya itu yang ia katakan
di telpon. Joong Ki segera masuk kembali ke dalam rumah hendak berpamitan pada
kami.
“Tapi, Joong Ki~ah tidak bisakah kita berfoto satu kali
lagi, kita belum berfoto untuk kelompok... Aku mohon...” pintaku pada Joong Ki.
“Baiklah hanya satu foto mengerti!” kata Joong Ki dengan
ekspresi khawatir dan kesal.
Namun foto itu tak bisa benar-benar baik jika hanya di ambil
sekali, jadi beberapa kali kami memotret ulang baru mendapat hasil yang baik.
Aku merasa bersalah dengan Joong Ki, ia kembali mendapat panggilan dari ibunya.
Ia segera mengambil tasnya berpamitan dengan ayahku lalu pulang bersama Geun
Suk. Sebelum pulang Geun Suk berpamitan pada kami semua dan berkata akan
kembali lagi setelah mengantar Joong Ki.
“Apa ada yang lebih penting dari tugas kita ini?” tanyaku
pelan., dengan ekspresi sedih dan kecewa.
“Dia bahkan tak pamit pada kita...” kata Jiyeon Kesal.
“Gyu Ri~ah, gwaenchana?” tanya Uee yang khawatir dengan
ekspresiku.
“Aku tak baik-baik saja...” jawabku tanpa sadar yang membuat
semua temanku terkejut.
~Bersambung

Kenapa jarang posting si min? Hehehe
BalasHapusmimin lagi sibuk kali dot hahaha
HapusOpps Maaf aja ngerti kok sih Dota gak peka sih hahaha...
HapusKirain mimin gak post lagi jadi jarang berkunjung ke sini...
BalasHapusMian mimin gak sempat post...
Hapus