Part
12
No
Comment
Kami
saling menatap beberapa detik, dan segera berpaling menatap arah yang
berlawanan. Suasana di antara kami tegang sampai Geun Suk datang.
“Kalian
kenapa?” tanya Geun Suk bingung.
“Kenapa
kau baru datang?” tanyaku kesal pada Geun Suk.
“Dasar
tidak tepat waktu...” kata Joong Ki menatap kesal pada Geun Suk.
“Ada
apa? Kenapa kalian kesal padaku?” tanya Geun Suk tambah bingung, tiba-tiba
handphonenya berdering.
“Iya
aku akan ke sana sekarang...” jawab Geun Suk pada si pemanggil di telponnya.
“Siapa?”
tanya Joong Ki penasaran menatap Geun Suk.
“Ibuku,
dia menyuruhku pulang dulu... Aku akan ke sini lagi setelah urusanku
selesai...” kata Geun Suk seraya membelokkan motornya ke arah jalan.
“Ya
sebentar lagi kita akan syuting...”
Geun
Suk pergi begitu saja dan kembali meninggalkanku dan Joong Ki. Suasana di
antara kami tegang. Joong Ki mencoba memulai pembicaraan.
“Kehancuran
dunia, apa film yang kita buat ini masuk akal?” tanya Joong Ki dengan nada
ragu.
“Ntahlah,
kita lakukan saja yang terbaik agar masuk akal...” jawabku dengan ragu juga.
“Oh
ya bagaimana dengan pedangnya? Sudah adakan? Jika belum kita dapat membuatnya
dengan kayu-kayu di sana...” kata Joong Ki seraya menunjuk tumpukan kayu.
“Pedangnya
sudah dibeli, ah akan lebih baik jika pedangnya kita buat dari kayu pasti lebih
kuat...” kataku seraya menatap tumpukkan kayu.
Aku
dan Joong Ki terus berbicara untuk menghilangkan kecanggungan kami. Dan
beberapa saat kemudian Uee dan Suzy datang. Aku pun meminta mereka bertiga
masuk ke dalam rumah. Kami duduk dan mengobrol di ruang tamu, Uee menunjukkan
ku sebuah foto. Itu adalah foto Aktor Nam Joo Hyuk, aktor tinggi nan tampan
yang sangat ku sukai. Ibuku datang membawa minuman untuk tamu-tamuku. Suzy
langsung meminumnya dan terlihat begitu lega seakan dia memang menanti minuman
tersebut. Joong Ki pun mulai mengangkat gelas dan hendak untuk minum.
“Aku
harap dapat menikah dengan Joo Hyuk Oppa...” kataku seraya menatap foto Nam Joo
Hyuk. Joong Ki yang sedang minumpun tiba-tiba tersedak, aku marah besar padanya
karena menurutku itu merupakan penghinaan besar.
“Menikah
denganya? Apa kau gila?” tanya Joong Ki dengan senyum mengejek.
“Ya,
apa yang salah dengan itu?” tanyaku balik menatap kesal pada Joong Ki.
Tiba-tiba
Jiyeon dan Geun Suk pun tiba, kami semua hanya menatap kesal pada mereka karena
jam telah menunjukkan pukul 10 pagi lewat dua jam dari jadwal yang di tentukan.
Namun, karena waktu tak dapat diputar kembali akhirnya aku dan teman-temanku
memutuskan untuk segera berangkat ke TKP. Ayahku juga ikut karena kali ini dia
menjadi kameramen kami, dia punya kerja sambilan di hari libur untuk merekam
atau memotret suatu acara sesuai permintaan.
Kamipun
tiba di Taman “A”, taman ini begitu sepi kami memasukinya dengan perasaan takut
lalu mencari pemiliknya. Kami melihat ke sebuah pondok kecil yang ada di dalam
taman. Tak ada yang mau kesana karena jaraknya cukup jauh dari gerbang, aku dan
Suzy terpaksa mengorbankan diri untuk kesana. Dari jauh kami mendengar suara
aneh terdengar seperti tangisan seorang wanita, juga ada suara teriakan seorang
pria. Kami berdua tetap melangkah maju memberanikan diri menuju pondok itu dan
mengetuk pintunya perlahan. Seketika suara di sekeliling jadi sunyi dan
perlahan pintu pondok itu terbuka sedikit menampakkan wajah seorang laki-laki
paruh baya yang kami asumsikan sebagai pemilik taman itu.
“Ada
apa?” tanyanya dengan nada bicara yang dingin.
“Kami
ingin meminta izin untuk menggunakan taman ini...” kata Suzy ragu. Sementara
pandanganku tertuju dari sela-sela leher dan kepala orang itu, aku melihat
sesuata yang janggal, seseorang yang terkapar di lantai tanpa mengenakan
sesuatu apapun di tubuhnya.
“Taman
ini sudah lama tutup, kami tidak dapat mengizinkan kalian menggunakannya
lagi...” kata laki-laki itu dengan nada bicara yang cukup tinggi. Ia melihatku
yang fokus melihat ke sela-sela lehernya dan segera merapat.
“Tapi,
kami hanya akan melakukannya sebentar... Ini hanya untuk mengisi nilai tugas
kami... Aku mohon...” Suzy terus mencoba membujuk orang itu yang tak bergeming
sedikitpun.
“Pergi
atau kalian mati!!!” aku dan Suzy mundur seketika mendengar kata itu. Orang itu
segera membanting pintu dan menguncinya.
“Ayo
kita pergi dari sini...” pinta Suzy ketakutan.
“Wanita
itu tidak matikan, dia hanya tidurkan?” tanyaku pada Suzy yang tak mengerti
maksudku.
Tiba-tiba
pintu pondok itu terbuka lagi seketika aku dan Suzy merasa membeku seketika.
Ternyata yang keluar dari sana adalah seorang wanita paruh baya yang terlihat
seumuran dengan ibuku, tapi apa yang ia bawa di lengannya. Itu tampak seperti
kapak.
“Pergi
dari sini atau kalian mati!!!” kata wanita itu seraya mengayunkan kapak ke arah
kamu. Seketika aku dan Suzy mengambil seribu langkah dan berlari menuju
gerbang. Kami sampai ke gerbang dengan nafas yang tak beraturan.
“Ayo...
Ayo... Per..gi dari si..si..sini... Kita harus per...gi dari sini...” kataku
dengan separuh nafas dan perasaan cemas luar biasa.
“Tapi
syutingnya gimana?” tanya Joong Ki.
“Nanti
kita bicarakan setelah keluar dari sini... Cepat!!!” kata Suzy. Karena melihat
kami berdua begitu panik dan ketakutan semua anggota kelompokku pun segera
bergegas menghidupkan mesin motor dan pergi. Kamipun berhenti di pinggiran
jalan.
“Ada
apa sih?” tanya Geun Suk penasaran.
“Kita
tidak bisa menggunakkan taman itu...” jawab Suzy murung.
“Memang
ada apa?” tanya Jiyeon Ikut penasaran.
“Jadi
kita harus gimana?” tanya Uee.
Aku
hanya menatap mereka dengan pikiran bercampur aduk. Aku masih tak percaya
dengan apa yang mataku lihat hari ini. Jelas aku melihat seorang wanita
terkapar tanpa sehelai pakaian-pun. Lalu tiba-tia seorang wanita akan menyerang
kami dengan sebuah kapak. Ah aku mungkin sudah gila, pada akhirnya apapun yang
sudah ku rencanakan tak akan berjalan dengan baik, aku tertunduk sedih seraya
menahan tangis. Aku tak tahu lagi harus bagaimana sekarang.
“Gyu
Ri ah, jadi gimana? Jadi gak syutingnya jangan buang-buang waktu ayah?” tanya
ayahku padaku yang kujawab dengan satu kata “Molla”.
Aku
pergi menjauh dari semua anggota kelompokku dan juga ayahku. Aku benar-benar
butuh waktu untuk berfikir tanpa ku sadari sekarang pelupuk mataku sudah di
banjiri dengan air mata. Aku terkejut ketika tiba-tiba sebuah tangan menyentuh
pundakku, segera ku hapus air mataku dan menatap si pemilik tangan itu.
“Ada
masalah apa?” tanya pemilik lengan itu seraya menatap ke arah jalan menghindari
mataku.
“Kita
tidak bisa menggunakkan taman itu... Apa yang harus kita lakukan?” tanyaku
seraya tertunduk sedih.
“Kita
hanya perlu mencari tempat baru kan...” jawabnya santai.
“Kau
pikir semudah itu mencari tempat baru, kita bahkan harus menyesuaikan diri
terlebih dahulu...”
“Emb
benar juga...”
“Sudah
ku duga kau tak punya solusi dasar deongsaeng babo...”\
“Tapi”
“Tapi
apa?”
“Bukankah
aku sudah pernah mengatakannya... Jika kau terus menatapi sesuatu itu tak akan
pernah berubah...” kata Joong Ki seraya menatap mataku. Akupun teringat ketika
Joong Ki berdiri di depan papan tulis dan mengatakan “Papan tulis ini tak akan
berubah meskipun kau terus menatapnya...” tapi aku masih tidak mengerti apa
maksud Joong Ki mengatakan itu.
“Jadi
apa maksudnya?” tanyaku kebingungan.
“Ah
kau ini pintar dalam belajar tapi kenapa bodoh dalam hal ini...”
“Nado
molla...”
“Maksudku
sesuatu itu tak akan pernah berubah jika kau hanya menatapnya dan tak melakukan
sesuatu... Papan tulis yang penuh coretan jika kau tatapi terus tak akan bersih
dengan sendirinya, kecuali jika kau berinisiatif untuk menghapus coretan itu...”
“Geurae...
Ayo kita cari tempat baru dan syuting...” aku segera mendekati teman-temanku.
“Bagaimana,
Gyu Ri ah?” tanya Uee penasaran.
“Ada
yang tahu sebuah tempat yang bisa kita gunakkan untuk syuting gak?”
“Tempat
yang seperti apa, Gyu Ri ah?” tanya Nayeon.
“Tempat
yang banyak pohonnya...” jawabku.
“Ajushi,
apa kau tahu tempat di sekitar sini yang banyak pepohonan...?” tanya Uee pada
Ayahku.
“Aku
tahu sebuah tempat...” jawab Ayahku.
“Ah
syukurlah, hanya minggu ini aku dapat izin...” kata Jiyeon lega, aku menatap
kasihan pada Jiyeon yang hidup terikat dengan bibinya.
Kamipun
berjalan mengikuti ayahku, namun sangat mengherankan kami menelusuri hutan dan
tak kunjung sampai. Setelah kurang lebih satu jam kami sampai ke sebuah ladang
sayuran. Kami mengikuti ayahku masuk ke ladang itu. Ayahku meminta izin ke
pemilik ladang. Sementara itu kami ber-tujuh segera melihat sekeliling ladang
dan terkejut.
“Ladang
sayur?” tanya Geun Suk.
“Bagaimana
kita bisa syuting film perang di sini?” tanya Uee dengan nada pelan.
“Sudahlah,
Ajushi sudah susah payah mencarikan kita tempat ini...” kata Jiyeon.
“Tapi
ini benar-benar tak masuk akal...” kata Uee.
“Uee
ah, syukuri saja...” kata Nayeon.
“Bagaimana
pendapat kalian?” tanya Suzy seraya menatap aku dan Joong Ki.
“NO
COMMENT” jawabku dan Joong Ki bersamaan. Kami berdua hanya dapat menatap ladang
sayur itu dengan perasaan bercampur aduk. Jika di pikir-pikir memang tak masuk
akal jika harus syuting film perang di ladang sayur.
“Yang
ku pikirikan hanya bagaimana jika kita tak sengaja menginjak sayuran itu?”
tanya Nayeon.
“Joong
Ki ah, Gyu Ri ah... Katakan sesuatu...” pinta Suzy.
“NO
COMMENT” jawab kami bersamaan lagi.
“Yah
apa kalian berdua sudah janjian untuk menjawab seperti itu...?” tanya Jiyeon.
“No
Comment...” jawab kami bersamaan lagi, akhirnya kami berdua saling menatap
seakan saling berbicara dalam hati.
“Ini
Sangat... DAEBAK!!!” kata kami bersamaan lagi dan kembali menatap ladang sayur
yang di penuhi tanaman kol.
~Bersambung

Hahaha ngakak plus tegang di part ini.
BalasHapusTapi kata-katanya Joong Ki Oppa bagus banget, “Maksudku sesuatu itu tak akan pernah berubah jika kau hanya menatapnya dan tak melakukan sesuatu... Papan tulis yang penuh coretan jika kau tatapi terus tak akan bersih dengan sendirinya, kecuali jika kau berinisiatif untuk menghapus coretan itu...”. Lanjut min, btw gpp kok kalo mimin telat update.
Sip deh makasih ya ShineShine...
HapusAh sepertinya admin sini sibuk banget ya, untung part ini memuaskan, tegang banget di bagian si wanita bawa kapak.
BalasHapusMian candy, makasih ya da baca...
HapusHa? Aku baru tahu kalo kalian berdua di kerja dengan wanita yang bawa kapak, pantas kamu murung banget hari itu...
BalasHapuskerja? maksudnya... Ya gak semua yang ada di sini terjadi di dunia nyata...
HapusMaksudnya kejar typo queen. Aku pikir ini murni kisah queen . . .
HapusPlease, baca lagi part 1 atau 2, sudah tertera kalo ini hanya terinspirasi dari kisah orang terdekatku dan yang lainnya murni karya fiksiku... Ini bukan kisah nyata!
HapusSepertinya part itu baru kau perbaharui . . .
HapusBenarkah? bagaimana kau bisa mengetahuinya ha ha ha...
Hapus