Langsung ke konten utama

Part 19 - Pesan Permintaan Maaf



Part 19
Pesan Permintaan Maaf



        “Aku tidak baik-baik saja...” tanpa sadar bibirku terucap kata yang seharusnya takku ucapkan.
        “Memangnya kenapa eonni?” tanya Jiyeon padaku.
        “Apa pedulimu dengannya?” tanya Suzy yang ikut penasaran.
        “Yup, memang ada apa Gyu Ri?” tanya Nayeon padaku juga.
        “Tak ada apa-apa, iyakan Gyu Ri?” tanya Uee dengan kedipan mata padaku.
        “Sebenarnya...” aku ragu untuk menjawab pertanyaan teman-temanku.
        “Sebenarnya apa?” tanya Suzy yang semakin penasaran.
        “Aku...” kataku semakin ragu.
        “Eonni kenapa?” tanya Jiyeon semakin penasaran.
        “Apa mungkin kau punya . . . Ah tak mungkinkan?” kata Suzy mencoba menebak.
        “Punya apa?” tanya Nayeon.
        “Apa yang kalian pikirkan? Gyu Ri hanya sedang melamun jadi dia tak tahu apa yang dia katakan...” kata Uee mencoba menjelaskan.
        “Sebenarnya aku hanya merasa bersalah pada Joong Ki...” jawabku seraya tersenyum paksa untuk menghilangkan pikiran-pikiran teman-temanku yang sudah melayang jauh.
        “Kenapa eonni harus merasa bersalah padanya? Dia yang meninggalkan kita begitu saja...” tanya Jiyeon dengan nada kesal.
        “Yup, seharusnya kita yang marah padanya...” kata Suzy membenarkan Jiyeon.
        “Dia pasti punya alasan...” kataku mencoba mengerti sifat Joong Ki.
        “Apapun itu, dia tak menghargai kita...” kata Nayeon ikut kesal.
        “Aku setuju, lebih tepatnya dia tak menghargaimu Gyu Ri~ah...” Uee pun terlihat kesal.
        “Ya sudah, kita lupakan saja mari berfoto lagi...” ajakku pada teman-temanku yang sudah terlihat begitu marah.
        Kamipun berfoto lagi, setelah puas berfoto mereka memutuskan untuk pulang.
        “Uee~ah, beritahu Geun Suk jika kalian sudah mau pulang, agar dia tak datang ke sini lagi dan merasa kecewa...” pintaku pada Uee yang langsung segera menghubungi Geun Suk.
        “Wah uri eonni, sangat perhatian...” puji Jiyeon padaku.
        “Maaf karena membuat kalian harus pulang telat hari ini...” kataku seraya menundukkan kepala menyesal.
        “Yah, kenapa kau minta maaf, ini urusan kelompok kita, kau sudah bekerja keras selama ini kami tetap harus membantumu...” kata Suzy kesal dan mengangkat kepalaku.
        “Gyu Ri~ah bagaimana hatimu bisa selembut ini? Aku iri padamu...” kata Nayeon dengan senyum kecil yang hanya dapat ku balas dengan senyum juga.
        Setelah melihat kepergian mereka aku segera masuk ke dalam rumah, aku duduk di ruang makan dengan perasaan bercampur aduk.
“Bagaimana dia bisa seperti itu, meninggalkan kami begitu saja?” tanyaku tanpa sadar yang langsung di jawab oleh ibuku.
“Itu karena dia harus memenuhi tanggung jawabnya...” jawab ibuku yang ikut duduk di kursi makan.
“Tapi, dia tak seharusnya begitu...” kataku masih kesal.
“Kau tidak lihat dari tadi ekspresinya khawatir , bukankah kamu yang cerita kalau didikan orang tuanya keras, mereka begitu disiplin...” ibuku terus membela Joong Ki.
“Lalu maksud mama aku yang salah di sini?” tanyaku pada ibuku yang di jawab dengan anggukan.
“Seharusnya pada saat dia ingin pulang kau membiarkannya, tapi kau malah memintanya berfoto sekali lagi... Dan bukannya sekali tapi kalian berfoto berulang kali... Itu tentu membuatnya kesal...” Jelas ibuku padaku yang mebuatku tersadar.
Aku segera ke kamarku, berbaring di ranjang dan memikirkan apa yang terjadi. Sejenak aku menyadari kesalahanku dan mulai menyesal.  Aku membayangkan bagaimana jika Joong Ki di marahi orang tuanya karena pulang terlambat. Segera ku ambil ponselku dan menulis pesan permintaan maaf pada Joong Ki.



        Sudah terlalu larut untuk menunggu pesan balasan dari Joong Ki jadi akupun memutuskan untuk tidur. Keesokan paginya aku mulai memikirkan pesan yang ku kirim pada Joong Ki. Bagaimana jika dia salah paham dengan pesanku? Apa yang harus ku lakukan jika bertemu dengannya nanti? Eotteokhae? Eotteokhae? Ah aku sungguh frustasi dan menyesal telah mengirim pesan permintaan maaf  itu. Namun pesan itu tak bisa di tarik, bagaimana jika Joong Ki menertawakanku karena pesan itu. Segera ku membuka mataku dan menendang jauh-jauh pikiran yang menggangguku sedari tadi. Ku ambil ponselku dan melihat pesan yang ku kirim pada Joong Ki lagi. Aku begitu cemas melihat tak ada balas dari Joong Ki, apa dia segitu marahnya hingga tak mau membalas pesanku. Ah, sungguh menyebalkan.
        Segeraku beranjak dari tempat tidur dan bersiap untuk berangkat ke sekolah. Di sepanjang perjalanan aku terus memikirkan pesan permintaan maaf yang ku kirim pada Joong Ki seraya terus bertanya-tanya bagaimana reaksinya membaca pesan itu. Sesampainya di sekolah aku masih memikirkan pesan itu, aku masuk ke kelas dengan ribuan rasa khawatir yang menghantuiaku. Seketika pikiranku kosong ketika melihat Joong Ki yang sedang membersihkan papan tulis menatap kesal padaku. Aku mencoba tak peduli dengan tatapan kesal Joong Ki itu, tapi...
        “Soal yang kemarin . . .” kataku ragu seraya berjalan membelakangi Joong Ki dan menuju kursiku.
        “Kemarin kenapa?” tanya Joong Ki polos.
        “Lupakan, tak ada apa-apa!” jawabku kesal dengan reaksi Joong Ki, aku segera duduk di kursi dan membaringkan kepalaku di atas meja.
        “Apa kau tak tidur semalaman? Lagi-lagi kau tidur di kelas hahaha...” tanya Joong Ki yang benar-benar sengaja mengejekku.
        “Aku tidur dengan nyenyak semalam, dan sekarang aku bukannya tidur aku hanya bersandar pada meja melepas semua bebanku tahu!!!” mendengar ejekan Joong Ki tadi benar-benar berhasil membuat telingaku panas.
        “Emb jadi kau perlu sandaran? Hahaha,” lagi-lagi dia mengejekku, segera ku ambil earphonesku dan menyambungkannya dengan ponsel seperti biasa aku mulai mendengarkan lagu girlband favoritku, T-ara dengan volume yang cukup besar agar tak dapat mendengarkan ocehan Joong Ki yang menyebalkan.
        “Ireokeae nal teonajima~aaaah...
        Jebal geuman nal apeugae hajima~aaaa...
        Neomu Aaa apa, Naega Aaa apa...” T-ara I’m Really Hurt
        “Eonni, ireona... Eonni... Gyu Ri eonni, pak guru sudah datang cepatlah bangun...” terdengar samar suara Jiyeon yang berusaha membangunkanku. Segera ku lepas earphones yang sedari tadi melekat di telingaku, aku terkejut melihat pak guru yang sudah duduk di kursinya dan Joong Ki yang sedang membagikan buku-buku.
        “Jiyeon ah, apa pak guru sudah datang sejak tadi?” tanyaku dengan ekspresi takut.
        “Bapak baru masuk tadi eonni, makanya aku segera membangunkan eonni... Apa eonni tidak tidur semalaman? Eonni terlihat begitu lelah?” tanya jiyeon yang terlihat khawatir padaku.
        “Ah, aku juga tak tahu tadi malam sangat sulit untuk tidur...” jawabku seraya mencoba tersenyum pada Jiyeon.
        “Sepertinya tadi pagi aku mendengar seorang wanita berkata bahwa dia tidur dengan nyenyak,” kata Joong Ki seraya meletakkan buku ke atas mejaku. Aku hanya dapat memandangi buku itu dengan perasaan kesal dan begitu malu karena ketahuan berbohong.
        “Apa maksudnya eonni?” tanya Jiyeon padaku.
        “Entahlah,” jawabku singkat tanpa memandang Jiyeon.
        Hari berlalu dengan cepat jam pelajaran hari ini berakhir, akupun bersiap pulang. Di dekat meja guru aku melihat Joong Ki, Geun Suk, Uee, Suzy, Nayeon dan Jiyeon sedang berkumpul menatap layar ponsel Joong Ki. Entah apa yang mereka lihat aku penasaran tapi berpura-pura tak peduli. Aku melihat Kim Jung Hyun yang sedang duduk di ponjok, segera ku hampiri dia.
        “Jung Hyun shi, bisa kita bicara sebentar?” tanyaku pada si dingin itu.
        “Apa?” tanya Jung Hyun padaku.
        “Nae, Ah ini tentang tugas yang di berikan pak park, kita satu kelompok jadi aku harap kau dapat menuangkan idemu dan memberitahuku...” jawabku pada Jung Hyun yang hanya di jawab dengan anggukan olehnya. “Yah, Kim Jung Hyun shi, tidak bisakah kau sedikit serius... Ini bukan hanya untukku namun juga untukmu...” aku benar-benar kesal dengan respon yang di tunjukkan Jung Hyun dan akhirnya sedikit meneriakinya.
        “Huft, aku tak punya banyak waktu untuk ini Nam Gyu Ri shi...” kata Jung Hyun yang beranjak meninggalkanku.
        “Yah!” aku berteriak frustasi pada Kim Jung Hyun yang ternyada sedari tadi di perhatikan oleh Joong Ki.
        “Kau sangat cerdas, aku yakin kau dapat mengerjakannya sendiri...” kata Jung Hyun yang kembali berjalan meninggalkanku, aku hanya dapat menundukkan kepala karena begitu malu, berteriak seperti tadi bukanlah diriku yang biasanya, aku benar-benar frustasi hari ini.
        “Benar, Nam Gyu Ri sangatlah cerdas, untuk apa dia harus meminta bantuan dengan orang sepertimu, dia dapat mengerjakannya sendiri dan hanya menulis namanya saja untuk mendapat nilai, namamu tak perlu di cantumkan bukan?” segera ku angkat kepalaku, mataku tertuju pada Joong Ki yang memegang bahu Jung Hyun, dengan paksa Jung Hyun melepas kan bahunya dari cengkraman Joong Ki.
        “Ketika aku punya ide aku akan menghubungimu,” kata Jung Hyun dan segera meninggalkan kelas.
        “Kak, kemarin aku mendapat pesan yang lucu... Teman-teman sudah melihatnya, apa kau juga mau melihatnya?” tanya Joong Ki menahan tawa, akupun melihat teman-temanku, Jiyeon dengan ekspresi sedihnya, Uee dengan ekspresi kesalnya, Geun Suk dan Suzy yang bersusah payah menahan tawa, Nayeon yang terlihat bingung. Tak salah lagi mereka pasti sedang melihat pesan permintaan maaf ku. Joong Ki mengambil ponselnya dan memperlihatkan pesan yang ku tulis untuknya lalu tertawa terbahak-bahak, begitu juga Geun Suk dan Suzy.
        “Eonni...” panggil Jiyeon lirih.
        “Kenapa kau mengiriminya pesan seperti itu?” tanya Uee kesal.
        “Itu karena Gyu Ri punya hati yang lembut dia sangat merasa bersalah kemarin...” jawab Nayeon.
        “Aku hanya merasa sedikit bersalah padamu, jadi jangan salah paham dengan pesan itu...” kataku pada Joong Ki yang menatapku dengan senyum.
        “Aku tidak salah paham, hanya saja aku merasa itu . . .” kata Joong Ki yang langsung terpotong.
        “Jika kau tak salah paham, maka lupakan...” kataku memotong perkataan Joong Ki.
        “Pesan-pesan yang begitu perhatian bagaimana bisa membuat orang tak salah paham?” tanya Geun Suk yang beranjak meningalkan kelas dan di ikuti oleh teman-teman yang lainnya, hingga hanya tersisa kami berdua.
        “Kau membiarkan mereka membaca pesan-pesanku?” tanyaku dengan nada sedih pada Joong Ki.
        “Aku... Hanya Geun Suk yang membacanya, itupun tak sengaja...” jawab Joong Ki merasa bersalah.
        “Lupakan, aku tak akan membalas atau mengirimimu pesan lagi...” kataku lalu meninggalkan Joong Ki di kelas seorang diri.
~ Bersambung

       

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dear Mr. Daebak

"Dear Mr Daebak"           Bercerita tentang kisah cinta yang luar biasa (Daebak), dengan penulis naskah terbaik. Kisah cinta dimana tawa dan tangis berjalan beriringan. Suka dan duka yang mewarnai cinta itu. Entah kapan cinta itu dimulai dan berakhir hanya Tuhan dan masing-masing dari mereka yang tahu.            Kisah cinta yang tak semudah yang terlihat dan tak sesulit yang dibayangkan. Karena pada akhirnya bergantung pada siapa yang ingin mempertahankan cinta tersebut.             Awalnya ini adalah sebuah drama yang berjudul "King And Queen Daebak", lalu berubah menjadi "All Of Daebak". Dan akhirnya dalam bentuk fanfic menjadi "Dear Mr. Daebak". Saya akan menampilkan beberapa aktor dan aktris yang akan saya gunakan namanya sebagai tokoh dalam cerita ini. Saya hanya meminjam nama dari aktor dan aktris ini tidak dengan ceritanya. Sila...

Part 18 - Aku Tidak Baik-baik Saja

Part 18 Aku Tidak Baik-baik Saja         Aku membersihkan kelas dengan sembarangan, bahkan sapu yang ku pegang hanya melewati dan menyentuh lembut lantai sesekali. Setelah panggilan untuk upacara dimulai, aku segera meletakkan sapu hendak meninggalkan ruang kelas. Namun, aku sedikit terkejut melihat Suzy dengan wajah yang pucat memasuki kelas. Aku membantunya berjalan ke kursinya. Ia duduk di sana dengan wajah yang pucat dan terlihat lelah.         “Suzy ~ah... Gwaenchana?” tanyaku khawatir pada Suzy.         “Aku gak apa-apa, cuma capek...” jawab Suzy dengan ekspresi wajah lesuh.         “Istirahatlah, aku akan menemanimu di sini...”         “Pergilah, kau harus mengikuti upacara, aku baik-baik saja kok...” kata Suzy cepat seraya men...

Part 1 - Hujan Apakah Ini? Aku Penasaran !!!

" Ini adalah subuah kisah orang terdekat penulis yang ditulis ulang  dari sudut pandang penulis, dengan sedikit tambahan tanpa mengubah inti cerita. Berkisah tentang sebuah cinta yang berawal dari kata 'Daebak' yang memiliki arti 'Luar Biasa'. Sebuah cinta yang entah kapan dimulai dan kapan berakhirnya, tak ada yang tahu pastinya. Hanya Tuhan yang tahu awal dan akhir kisah ini, Tuhan yang menciptakan cinta dihati masing-masing insan. Kisah cinta yang membuat tawa dan tangis berjalan beriringan. Cinta, entah apa itu, ada suka didalamnya, ada kebahagian. Namun, juga ada duka yang menggores hati, kesedihan yang mendalam. Ini bukan kisah cinta biasa, karena ini adalah kisah yang ditetapkan oleh Tuhan." ========================== Part 1 Hujan Apakah Ini? Aku Penasaran !!!                            Hari pertamaku dikelas X...