Part
17
Bodohnya
Diriku
“Ini untuk terakhir
kalinya...” tanpa sadar kata-kata itu terucap dari bibirku, mataku mulai
berkaca, aku segera berbalik dari hadapan Joong Ki. Dengan kasar ku hapus air
mata yang hendak mengalir. Segera aku menghadap Joong Ki kembali dengan senyum
yang lebar.
“Ayo kita selesaikan
syuting ini dengan baik, agar tak ada lagi hal yang membuat kita harus
bersama...” aku menatap Joong Ki dengan senyum palsu, aku sungguh ingin tetap
bersamanya namun pikiranku menolak semua itu.
“Apa maksudmu? Aku sungguh
tak mengerti?” tanya Joong Ki sekali lagi dengan nada yang lebih lembut.
“Hahaha, kau tak nyaman
jika terus di dekatku kan, makanya setelah syuting ini berakhir kita tak perlu
berdekatan lagi...” jawabku seraya tertawa kecil sesekali.
“Kapan aku bilang
begitu?” tanya Joong Ki padaku lagi, kali ini dengan tatapan penuh dengan tanda
tanya.
“Kau selalu pergi
setiap kali aku ada di dekatmu, menurutku itu karena kau tak suka di dekatku
atau mungkin kau membenciku, hahaha aku benarkan...?” aku tersenyum di hadapannya
namun hatiku menangis.
“Umm itu... Itu... Itu
karena...” Joong Ki terlihat ragu untuk menjawab pertanyaanku.
“Tak perlu kau jawab,
aku sudah tahu jawabannya...” Aku berjalan ke arah teman-teman yang lain
meninggalkan Joong Ki yang tertunduk memandangi jalanan, hahaha aku rasanya
ingin tertawa dan menangis, aku tahu dia membenciku namun tetap saja
mengganggunya, bodohnya diriku.
Teman-temanpun segera
menyelesaikan syuting bagiannya. Karena di cerita aku sedang sekarat, jadi aku
tak punya adegan apapun selain berbaring dengan banyak infus di tubuhku.
Pikiranku sedikit kacau, selagi menunggu aku mengambil handphone dan menulis
status di twitterku.
“Jika terus seperti ini
aku akan terluka sendirian...”-@NGyuRi
Setelah semua adegan di
saat aku koma selesai, kami melanjutkan syuting dengan adegan 7 tahun kemudian,
setelah aku tersadar dari koma. Kami menyelesaikan syuting dengan baik hari
ini.
“Terima kasih, kerja
kerasnya teman-teman...” ucapku seraya tersenyum lebar pada chingu-chingu yang
ku sayangi itu.
Banyak waktu
terlewatkan bersama, ini akan menjadi kenangan yang sangat berharga untuk
kembali di ingat suatu saat nanti. Setelah semuanya selesai kamipun bersiap
untuk pulang. Aku, Suzy dan orang tuaku pulang ke rumahku. Sesampai di rumah
hari sudah gelap. Aku cemas pada Suzy, ia sudah di telepon orang tuanya
beberapa kali. Jarak rumahnya dan rumahku pun cukup jauh, jalanan juga gelap.
“Suzy ah~ tak bisakah
kamu menginap saja di rumahku?” tanyaku ragu pada Suzy.
“Orang tuaku sudah
menelpon dan menyuruhku cepat pulang tak ada pilihan lain...” jawab Suzy sedih.
“Ah bagaimana ini,
jalanan gelap dan rumahmu cukup jauh dari sini kan?” tanyaku pada Suzy lagi.
“Semua ini karena
Nayeon... Dia bilang mau pulang bersamaku... Padahal rumah kami berdekatan...”
kata Suzy duduk mengacak rambutnya sendiri.
“Bagaimana jika biarkan
ibuku bicara pada ibumu agar ia membiarkan kamu menginap di sini untuk satu
malam saja?” tanyaku pada Suzy lagi.
“Yah, kenapa kau begitu
peduli padaku... Aku bisa pulang sendiri...” kata Suzy dengan sedikit senyum.
“Kita saudara...”
jawabku dengan wajah datar pada Suzy.
“Umm, apa maksudmu?”
tanya balik Suzy padaku.
“Kau pernah bilang jika
kita saudara...” jawabku masih dengan wajah datar.
“Hahaha, aku hanya
bercanda... Tapi jika kau berfikir begitu baiklah... Mulai sekarang kita
saudara...” kata Suzy dengan senyum lebar. Tiba-tiba teleponnya kembali
berdering, di layar ponselnya tertulis “Mama”. Ibukupun keluar mengantarkan teh
hangat pada kami.
“Ma, tolong bicara pada
mamanya Suzy agar mengizinkannya menginap di sini... Hari sudah cukup larut
untuknya pulang sendirian...” dengan penuh harap aku memohon pada ibuku.
“Bukannya tadi Nayeon
bilang akan pulang bersamamu?” tanya ibuku pada Suzy.
“Iya tante, tapi
tiba-tiba Nayeon di jemput dengan pacarnya...” jawab Suzy sedih.
“Emm, jadi itu
pacarnya? Tapi dia bilang itu adalah keluarganya...” kata mama ragu. Mamapun
menatap pada ponsel Suzy yang sedari tadi berdering. Dan menawarkan diri untuk
berbicara dengan mamanya Suzy.
“Kapan kamu akan
pulang???” Suara nyaring dari ponsel membuat ibuku sedikit menjauhkan ponsel
itu beberapa saat.
“Maaf, apa ini ibunya
Suzy?” tanya ibuku ragu.
“Iya, di mana anak
itu???” tanya ibu Suzy dengan suara yang tak kalah nyaring dari sebelumnya.
“Suzy ada di rumahku...
Tak bisakah dia menginap di sini untuk semalam saja... Hari sudah . . .” Belum
sempat ibuku melanjutkan perkataannya Ibu Suzy sudah memotong.
“Apapun yang terjadi
Suzy harus pulang malam ini juga, berikan teleponnya pada Suzy sekarang Juga!!!”
tanpa berkata apa-apa Ibuku langsung memberikan teleponnya pada Suzy. Terlihat
Suzy menjawab telepon dengan perasaan sedih. Ia hanya menjawab Iya, ya,
baiklah. Setelah telepon ditutup Suzy segera meneguk teh hangat yang di buat
oleh ibuku.
“Terima kasih tante,
Gyu Ri ah juga... Aku pamit pulang dulu ya...” Ucap Suzy seraya membungkuk
hormat pada ibuku.
“Kau yakin bisaq pulang
sendiri?” tanyaku khawatir pada Suzy.
“Gwaenchanayo, nan
himsaen yeoja... hahaha...” jawab Suzy padaku seraya menunjuk kedua tangannya
yang bahkan tak terlihat memiliki otot.
“Yah, neo Do Bong Sun
aniya...” Jawabku seraya berjalan ke arah pintu ke luar bersama Suzy.
Suzy memperhatikan
sepedanya, dan ia terkejut melihat rantai sepedanya putus, tiba-tiba ponselnya
berdering kembali.
“Eotteokhae?” tanya
Suzy seraya meneteskan air mata, matakupun tertuju pada rantai sepedanya yang
putus.
“Kenapa rantainya bisa
putus?” tanyaku pada Suzy yang tak berhenti menangis, terlihat dia sedang
menjawab telepon dari orang tuanya. Setelah beberapa saat akhirnya iaq menutup
panggilan itu.
“Apa yang dikatakan
orang tuamu kali ini?” tanyaku penasaran pada Suzy yang berusaha menyeka air
matanya.
“Mereka... Mereka
akan... Ke sini... Men... Menjemputku...” Jawab Suzy dengan air mata yang tak
berhenti mengalir.
“Apa kau di marahi?”
tanyaku pada Suzy seraya berusa menyeka air matanya. Namun Suzy malah menangis
lebih besar. Aku memeluknya, membelai rambutnya dan berkata “Maafkan aku, ini
salahku, andai kita bisa pulang lebihb awal, andai kau langsung ke lokasi
syuting... Maafkan aku...”
“Aniya... Ini bukan
salahmu, ini salah anggota yang lain yang tidak mengikuti instruksimu untuk
kumpul di sini dulu... Mereka egois...” kata Suzy kesal, iapun menghapus air
matanya dengan kasar.
Kami menunggu beberapa
saat sampai Suzy di jemput, jam dinding sudah menunjuk jam 11 malam. Namun
belum ada tanda-tanda kedatangan orang tua Suzy, sesekali aku dan Suzy menguap
menahan kantuk yang luar biasa.
“Suzy ah~ apa orang tuamu benar-benar akan datrang?”
tanyaku pada Suzy.
“Jika mereka bilang
akan datang, artinya mereka pasti datang...” jawab Suzy dengan mata tertutup.
Tiba-tiba sebuah motor
berhenti di depan rumahku, Suzy dengan cepat berlari menghampiri motor itu. Aku
berusaha menyusulnya namun hanya bayangannya dalam kegelapan yang terlihat.
Tiba-tiba ia mengirimiku pesan. “Jangan khawatir Gyu Ri~ah, aku akan baik-baik
saja dan besok aku akan bercerita padamu... Tidurlah dengan nyenyak, oh ya ku
titip sepedaku padamu...” Setelah menerima pesan dari Suzy aku sedikit tenang
dan segera tidur. Keesokan harinya aku bangun tepat pukul 6 pagi, dengan cepat
aku mandi dan bersiap-siap berangkat, aku bahkan meninggalkan sarapan pagi
karena takut terlambat. Sesampainya di sekolah, kelas sudah ramai, mataku
tertuju pada Jiyeon, yang hanya duduk diam dengan tatapan kosong.
“Jiyeon ah~...”
panggilku pelan pada Jiyeon.
“Mianhae, eonni...”
kata Jiyeon tiba-tiba padaku.
“Aku yang seharusnya
minta maaf, aku memberikan peranmu pada
Nayeon...” kataku tertunduk menatap lantai.
“Aniya, itu bukan salah
eonni... Itu salahku karena tak menepati janji untuk datang... Eonni sudah
melakukan hal yang benar kok...” kata
Jiyeon yang ikut menundukkan kepalanya, aku mengangkat kepalaku dan mengangkat
pelan kepala Jiyeon.
“Aku akan memasukkan
suaramu ke dalam film, agar kau tetap dapat nilai, tak masalahkan?” tanyaku
pada Jiyeon dengan ragu.
“Bukankah itu ilegal?”
tanya Qri yang tiba-tiba menghampiri kursi kami.
“Itu pasti sangat
sulit, aku tak mau lebih menyusahkan eonni...” jawab Jiyeon sedih.
“Itu tak benar-benar
sulit, kau tahu bahwa aku suka editingkan... tenang saja...” kataku seraya
membelai rambut Jiyeon, karena merasa tak di hiraukan Qripun pergi.
“Bagaimana hasil
Syuting kita???” tanya Geun Suk yang baru datang padaku.
“Seperti biasa milikmu
yang paling buruk...” jawabku sinis padanya.
“Gyu Ri~ah...” panggil
Suzy pelan padaku, terlihat jika matanya agak bengkak, sepertinya dia menangis
semalaman karena di marahi.
“Gwaencahana? Kenapa matamu
bengkak? Apa kau di marahi semalaman?” tanyaku sedih pada Suzy.
“Ne...” Jawab Suzy
sedih dan segera duduk di kursinya yang bersebelahan dengan Nayeon.
“Kenapa kau dimarahi?”
tanya Nayeon pada Suzy namun tak di hiraukan Suzy.
“Piket hari Senin, Lee
Qri, Jang Geun Suk, Kim So Hyun, Kim Yoo Jung, Yoo Seung Hoo, Park Bo Geum,
Jeon Bo Ram, Park So Yeon, dan Nam... Gyu... Ri...” Joong Ki membacakan jadwal
piket dengan kencang.
“Aku sudah
bersih-bersih tadi pagi...” kata Qri.
“Aku akan buang sampah
sekarang...” kata Geun Suk seraya membawa tong sampah yang penuh ke luar kelas.
“Aku dan Yoo Jung sudah
bersih-bersih bersama Qri tadi...” kata So Hyun.
“Aku dan Bo Gum juga
sudah membantu mereka mengangkat kursi tadi pagi...” kata Seung Hoo.
“Lalu, Jeon Bo Ram,
Park So Yeon, apa yang kalian lakukan...?” tanya Joong Ki dengan tatapan tajam
pada Boram dan Soyeon.
“Emm aku memungut
sampah sekarang...” kata Boram seraya memungut sampah di sekelilingnya di ikuti
oleh Soyeon.
“Lalu Nam Gyu Ri? Apa
yang kau lakukan..? tanya Joong Ki dengan tatapan membunuh padaku.
“Aku? Aku tak melakukan
apapun, kelas ini sudah cukup bersih...” jawabku seraya tersenyum paksa pada
Joong Ki.
“Oh? Benarkah? Di sana,
di sana dan di sana masih banyak smpah dan debu-debu... Bersihkan semuanya!!!”
perintah Joong Ki padaku.
“Yah... Sebentar lagi
kan upacara, jika aku . . .” belum selesai aku berbicara Joong Ki sudah
meninggalkan kelas.
Tak ada siapapun di
kelas, aku segera membersihkan kelas.
“Bodohnya diriku,
berbicara dengan orang seperti Joong Ki, bagaimana dia bisa sedingin itu pada
wanita, apa dia benar-benar membenciku... Kenapa dia hanya bersikap kasar
padaku? Ah aku akan gila jika begini, bodohnya diriku...”
~Bersambung

Kamu memang budoh hehehe . . . By the way, kapan kamu mau comeback, kangen ni sama Mr. Daebak . . .
BalasHapusbudoh??? mwoya???
Hapustypo mimin, adek minta maaf deh . . .
HapusIh, kamu nih kenapa sih?
HapusMimin kapan mau up? Kangen π
BalasHapusMianhae Rina, mimin gak ada kuota akhir-akhir ini...
Hapusaku aja baru sempat baca :):):)
BalasHapusGwaenchana, yang penting masih sempatkan hehehe...
Hapus