Langsung ke konten utama

Part 16 - Terakhir



Part 16
Terakhir





“ Nae ireumeun yeojachingu mwondae?~
Wae jakku ttan gosman chyeodabwa neon nal molla~
Uri mannan jiga beolsseo myeot nyeonjjaende~
Eojjeom nae ireumdo molla, mami apeujanha~
Nae ireumeun, nae ireumeun, nae ireumeon~
Mwo mwo mwo ya~
Nae ireumeun, nae ireumeun, nae ireumeon~
You don’t know my name~
What’s my name?~”

Lagu T-ara, what’s my name yang baru saja di rilis beberapa hari lalu membangunkanku di pagi ini. Namun mataku masih enggan terbuka lagu itu begitu enak terdengar di telinga membuatku tak ingin mematikan alarm handphone di sampingku. Aku rasanya ingin mendengarkan lagunya sampai selesai, salahku memang menjadikan lagu favoritku sebagai dering alarm hehehe. Ketika lagunya berakhir akupun membuka mataku, aku segera bangun dan mandi. Setelah selesai mandi aku melihat sekilas pada jam dinding yang menunjukkan pukul 5 lewat 30 menit. Aku tersenyum perlahan melihat jam dinding itu. Segeraku ganti pakaianku bersiap untuk syuting. Dengan hati-hati ku memakai make up, dengan imeg sebagai kakak yang baik aku memakai make up yang sedikit tipis agar memancarkan aura yang segar. Akupun memasukkan make up ku ke dalam tas kecil yang akan kubawa hari ini. Aku harus membawanya untuk mengganti make upku, karena imegku akan berubah setelah kehilangan Suzy yang berperan sebagai deongsaengku.
Setelah selesai aku duduk di tempat tidur dan membaca naskah. Karena selama ini aku kurang latihan aku takut melupakan part-part penting dalam naskahku, jadi aku kembali menghafalnya. Aku hanya tersenyum paksa ketika melihat partku dan Joong Ki. Apa yang akan kulakukan jika bertemu dengannya nanti, pasti akan sangat canggung. Bagaimana dengan part kami nanti, bagaimana jika aku salah tingkah dihadapannya dan menghancurkan syuting. Tidah, tidak, itu tak boleh terjadi, syuting hari ini haruslah menjadi syuting terakhir kami. Aku tak boleh membawa masalah pribadi dalam pekerjaan, aku harus melupakan apa yang terjadi pada kami selama ini. Lagi pula aku sudah memutuskan untuk berhenti mencintainya, setelah syuting ini berakhir kami tak akan punya kesempatan untuk dekat lagi. Aku akan melupakannya, ini yang terakhir. Batinku terus berbicara tentang Joong Ki saat ini. Tiba-tiba ibuku membuka pintu kamarku dan membuatku sedikit terkejut.
“Gyu Ri ~ah... Apa kau sudah siap?” tanya ibuku, yang berdiri berkacak pinggang di depan pintu, ia sudah terlihat rapi hari ini. Ia akan membantu syutingku kali ini, karena akan sulit jika aku menjadi pemeran utama sekaligus sutradara. Akhirnya ibuku mau menjadi sutradara kami.
“Sudah, memang kenapa ma?” tanya ku seraya memasukkan naskah ke dalam tas kecilku.
“Siapkan infus yang mau di bawah nanti lupa, lalu jingga merah untuk membuat darah juga jangan sampai lupa dan juga pakaian ganti untukmu...” pinta ibuku seraya berjalan meninggalkan kamarku.
Aku tersenyum perlahan, dan segera beranjak keluar kamar, akupun menyiapkan 10 buah infus yang ku beri warna yang berbeda-beda. Lalu ku masukkan infus itu ke dalam sebuah kotak dan menyusunnya rapi. Tak lupa aku memasukkan jingga merah ke dalam kotak itu. Setelah selesai aku memasukkan kotak itu ke bagasi mobil. Aku melihat ayahku yang sedang memanaskan mobil dan memasukkan beberapa perlengkapan untuk merekam kami. Aku hendak berbalik beranjak masuk ke dalam rumah lagi namun ayahku menghentikan langkahku.
“Gyu Ri ~ah... Hari ini kita akan syuting di mana saja?” tanya ayahku padaku, akupun segera berbalik dan menjawabnya.
“Ehm, kami akan syuting di sekolah kami yah... Lalu juga di padang ilalang di jalan saranghae, dan juga di bawah pohon di dekat padang ilalang, lalu di jalan jeoahae, disana jalannya sepi dan besar dan ada sebuah pohon tepi jalan...” jawabku seraya tersenyum.
“Ehm jadi bagaimana rutenya Gru Ri ah?” tanya ayahku lagi.
“Kita akan ke jalan saranghae dulu, lalu ke jalan jeoahae dan terakhir ke sekolah kami...” jawabku lagi.
“Bagaimana dengan teman-temanmu?” tanya ayahku lagi.
“Mereka akan ke sini dan berangkat bersama kita...” jawabku.
“Oh baiklah, segeralah bersiap...” pinta ayahku, aku hanya tersenyum dan segera masuk ke dalam kamar. Aku menyiapkan pakaian gantiku dan memasukkannya ke dalam tas. Setelah selesai aku mengambil handphoneku aku terkejut melihat jam di handphoneku yang sudah menunjukkan pukul 7 lewat 10 menit, namun tak satupun  temanku sudah datang, bahkan Joong Ki menyebalkan itu belum datang, biasanya ia begitu tepat waktu. Aku segera mengirim pesan pada mereka.





Aku benar-benar terkejut dengan balasan mereka, mereka sudah di jalan saranghae namun tak memberitahuku. Mereka nampaknya mulai mengabaikanku, padahal aku meminta mereka untuk ke rumah terlebih dahulu. Aku dengan mood yang burukpun berjalan ke luar ternyata di ruang tamu sudah ada Suzy yang sedang selfie duduk menungguku.
“Yah, Bae Suzy, Wae yeogiga?” tanyaku pada Suzy, ia segera menoleh padaku dan meletakkan handphonenya di atas meja.
“Bukannya kau yang memintaku, untuk ke sini dulu?” tanya Suzy balik padaku.
“Nampaknya hanya kau yang memenuhi permintaanku kali ini...” kataku pada Suzy seraya tersenyum paksa.
“Mana yang lain?” tanya Suzy lagi.
“Mereka sudah di jalan Saranghae...” jawabku dengan ekspresi kesal.
“Kenapa mereka ke sana duluan?” tanya Suzy lagi.
“Entahlah, ya sudah ayo kita bergegas pergi...” kataku mengalihkan pembicaraan.
“Okay, Gyu Ri ~ah, sepedaku biarkan di sini saja ya... aku naik mobilmu saja...” pinta Suzy padaku.
“Nae... Kajja...” aku dan Suzypun masuk ke dalam mobil.
Kami berangkat, di jalan Suzy terus menanyaiku tentang teman-teman yang lain namun aku sungguh kesal dan tak ingin membahasnya. Tak beberapa lama kami sampai di jalan Saranghae. Aku hanya menatap kesal pada Joong Ki dan Geun Suk begitu juga Uee dan Nayeon. Namun, aku harus menahan amarahku jika ingin syuting kali ini selesai dan berjalan dengan lancar.
Setelah siap kamipun mulai untuk syuting di jalan saranghae, di sana sepenuhnya adeganku dan Uee. Aku begitu kesal dengan Uee hari ini namun harus tetap tersenyum padanya berlagak menjadi kakak yang baik. Kami berlarian di padang illang, menangkap kelinci dan bersantai di bawah pohon yang rindang kami juga tidur di dalam mobil bersama. Setelah semua adegan itu selesai kami berpindah ke jalan jeoahae. Kali ini aku harus menahan hati karena adeganku dengan Joong Ki harus di peragakan di sini. Adegan di mulai dengan aku dan Uee yang menaiki motor untuk berjalan-jalan di jalan yang sepi. Lalu kami yang di hadangkan Jiyeon, seketika aku terkejut karena tak melihat Jiyeon.
“Jiyeon, dimana Jiyeon?” tanyaku pada anggota kelompokku yang lain.
“Dari tadi Jiyeon memang tak ada...” jawab Uee.
“Mwo!” kataku terkejut.
“Diakan teman dekatmu, bagaimana kau bisa tak tahu?” tanya Joong Ki padaku.
Aku begitu terkejut, segera ku raih handphone di dalam tas ku dan menelpon Jiyeon. Aku menghubunginya lebih dari sepuluh kali namun tak ada jawaban.
“Bagaimana ini? Tak ada jawaban...” tanyaku pada teman-teman yang lain.
“Nayeon saja, gimana kalo nayeon menggantikannya...” kata Geun Suk.
“Bagaimana dengan naskahnya, memang Nayeon hafal?” tanya Suzy pada Geun Suk.
“Menghafal partnya sendiri susah bagaimana bisa hafal part orang lain...” kata Joong Ki meremehkan.
“Aku sangat suka partnya Jiyeon, jadi aku hafal bagiannya...” kata Nayeon yakin.
“Wah bagus donk... Gimana Gyu Ri?” tanya Uee padaku.
“Lalu bagaimana dengan partnya Nayeon dan bagaimana dengan Jiyeon?” tanyaku dengan nada sedih.
“Suzy dapat menggantikan Nayeon dengan memakai masker... Dan nanti kita akan mengklaim jika dia adalah Jiyeon...” kata Nayeon bersemangat.
“Tapi suaranya, suara Jiyeon punya ciri khas... Lagipula dia pasti sedih jika partnya di ambil...” kataku semakin sedih.
“Kau ahli dalam editing, kau pasti bisa membuat Nayeon bersuara Jiyeon... Lipsing...” saran Joong Ki.
“Ayolah, kita tak punya banyak waktu lagi Gyu Ri~ah...” rayu Uee padaku.
Para teman yang lainpun menatapku penuh harap, aku terpaksa menyetujuinya. Aku benar-benar sedih dan merasa bersalah pada Jiyeon. Syutingpun dilanjutkan, aku di cegat oleh para penjahat mereka merebuh Uee dariku dan menusukku dengan pedang. Setelah aku terkapar tak berdaya mereka meninggalkanku dengan pedang yang masih menancap.
Joong Ki dan Geun Suk pun datang dan menyelamatkanku. Joong Ki mencabut pedang dari perutku. Merekapun membopongku, akhirnya di jalan yang sepi mereka membawaku dengan motor, Geun Suk berjalan di belakang motor Joong Ki. Kamera merekam aku yang bersandar tak berdaya di punggung Joong Ki. Jantungku rasanya mau copot, aku begitu takut jikalau Joong Ki dapat mendengar degepun jantungku. Namun pada saat itu aku masih berharap waktu dapat berhenti, agar aku tetap dapat bersandar padanya. Setelah selesai Joong Ki menghentikan motornya.
“Yah, apa kau benar-benar tidur tadi?” tanya Joong Ki dengan nada mengejek.
“Hmm kenapa tak boleh ya?” tanyaku balik dengan nada mengejek.
“Tentu saja tak boleh... Enak saja menjadikan punggungku tempat untuk tidur” jawab Joong Ki dengan cepat.
“Kenapa? Apa pacarmu akan marah?” tanyaku dengan nada menggoda.
“Menyebalkan, kau wanita pertama yang ku bonceng selain ibu dan adikku tahu....” jawab Joong Ki kesal padaku.
“Tak bisakah kamu mengikhlaskannya...?” tanyaku pada Joong Ki.
“Apa maksudmu...?” tanya Joong Ki padaku.
“Ini untuk terakhir kalinya...” kataku pada Joong Ki.
~Bersambung

Komentar

  1. http://mwave.interest.me/mcountdown/vote/preVote Jangan lupa vote T-ara ya...
    Semangat min, kirain udah end ffnya...

    BalasHapus
  2. 10 hari berlalu tapi queen belum up juga, apa ini ff terakhir sama seperti judulnya?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dear Mr. Daebak

"Dear Mr Daebak"           Bercerita tentang kisah cinta yang luar biasa (Daebak), dengan penulis naskah terbaik. Kisah cinta dimana tawa dan tangis berjalan beriringan. Suka dan duka yang mewarnai cinta itu. Entah kapan cinta itu dimulai dan berakhir hanya Tuhan dan masing-masing dari mereka yang tahu.            Kisah cinta yang tak semudah yang terlihat dan tak sesulit yang dibayangkan. Karena pada akhirnya bergantung pada siapa yang ingin mempertahankan cinta tersebut.             Awalnya ini adalah sebuah drama yang berjudul "King And Queen Daebak", lalu berubah menjadi "All Of Daebak". Dan akhirnya dalam bentuk fanfic menjadi "Dear Mr. Daebak". Saya akan menampilkan beberapa aktor dan aktris yang akan saya gunakan namanya sebagai tokoh dalam cerita ini. Saya hanya meminjam nama dari aktor dan aktris ini tidak dengan ceritanya. Sila...

Part 18 - Aku Tidak Baik-baik Saja

Part 18 Aku Tidak Baik-baik Saja         Aku membersihkan kelas dengan sembarangan, bahkan sapu yang ku pegang hanya melewati dan menyentuh lembut lantai sesekali. Setelah panggilan untuk upacara dimulai, aku segera meletakkan sapu hendak meninggalkan ruang kelas. Namun, aku sedikit terkejut melihat Suzy dengan wajah yang pucat memasuki kelas. Aku membantunya berjalan ke kursinya. Ia duduk di sana dengan wajah yang pucat dan terlihat lelah.         “Suzy ~ah... Gwaenchana?” tanyaku khawatir pada Suzy.         “Aku gak apa-apa, cuma capek...” jawab Suzy dengan ekspresi wajah lesuh.         “Istirahatlah, aku akan menemanimu di sini...”         “Pergilah, kau harus mengikuti upacara, aku baik-baik saja kok...” kata Suzy cepat seraya men...

Part 1 - Hujan Apakah Ini? Aku Penasaran !!!

" Ini adalah subuah kisah orang terdekat penulis yang ditulis ulang  dari sudut pandang penulis, dengan sedikit tambahan tanpa mengubah inti cerita. Berkisah tentang sebuah cinta yang berawal dari kata 'Daebak' yang memiliki arti 'Luar Biasa'. Sebuah cinta yang entah kapan dimulai dan kapan berakhirnya, tak ada yang tahu pastinya. Hanya Tuhan yang tahu awal dan akhir kisah ini, Tuhan yang menciptakan cinta dihati masing-masing insan. Kisah cinta yang membuat tawa dan tangis berjalan beriringan. Cinta, entah apa itu, ada suka didalamnya, ada kebahagian. Namun, juga ada duka yang menggores hati, kesedihan yang mendalam. Ini bukan kisah cinta biasa, karena ini adalah kisah yang ditetapkan oleh Tuhan." ========================== Part 1 Hujan Apakah Ini? Aku Penasaran !!!                            Hari pertamaku dikelas X...